RI–Uni Ekonomi Eurasia Siap Teken FTA, Perdagangan Ditargetkan Melonjak
Kompasjakarta.com – Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU) bersiap menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) yang diharapkan mampu mendorong lonjakan perdagangan bilateral sekaligus membuka peluang pasar baru bagi produk nasional. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam strategi diversifikasi pasar ekspor Indonesia di tengah dinamika perdagangan global.
FTA RI–EAEU mencakup negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia seperti Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgizstan. Kawasan ini dinilai memiliki potensi pasar yang besar, baik dari sisi jumlah penduduk maupun kebutuhan impor terhadap berbagai komoditas unggulan Indonesia. Dengan FTA, hambatan tarif dan non-tarif diharapkan berkurang signifikan sehingga arus barang dan jasa menjadi lebih lancar.
Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan nilai perdagangan bilateral secara bertahap setelah FTA berlaku. Sejumlah sektor unggulan diproyeksikan mendapatkan manfaat langsung, antara lain produk pertanian dan perkebunan, makanan dan minuman olahan, tekstil dan alas kaki, produk kimia, hingga komponen otomotif. Di sisi lain, Indonesia juga berpotensi memperluas akses terhadap bahan baku dan teknologi dari kawasan Eurasia dengan harga yang lebih kompetitif.
Selain perdagangan barang, FTA ini juga membuka peluang kerja sama di bidang investasi, logistik, dan rantai pasok. Pemerintah menilai integrasi ekonomi dengan EAEU dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional. Diversifikasi pasar menjadi kunci menghadapi fluktuasi permintaan global dan risiko geopolitik.
Pelaku usaha menyambut positif rencana penandatanganan FTA ini. Asosiasi eksportir menilai penghapusan atau penurunan tarif akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Eurasia. Biaya masuk yang lebih rendah memungkinkan harga produk menjadi lebih kompetitif, sekaligus memperluas pangsa pasar bagi pelaku UMKM yang selama ini menghadapi kendala akses.
Namun demikian, pemerintah menegaskan pentingnya kesiapan industri dalam negeri agar mampu memanfaatkan peluang FTA secara optimal. Peningkatan kualitas produk, pemenuhan standar teknis, serta penguatan branding menjadi agenda penting. Selain itu, dukungan pembiayaan, fasilitasi promosi, dan pendampingan ekspor terus didorong agar manfaat FTA dirasakan secara merata.
Dari sisi kebijakan, pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi untuk melindungi sektor-sektor sensitif. Evaluasi dampak dilakukan secara berkala guna memastikan bahwa liberalisasi perdagangan tidak merugikan industri strategis nasional. Pendekatan ini diharapkan menciptakan keseimbangan antara keterbukaan pasar dan perlindungan kepentingan domestik.
Pengamat ekonomi menilai FTA RI–EAEU sebagai langkah strategis yang tepat waktu. Di tengah perlambatan ekonomi global, membuka pasar non-tradisional dapat menjadi sumber pertumbuhan baru. Kawasan Eurasia menawarkan peluang permintaan yang stabil, terutama untuk komoditas pangan, produk konsumsi, dan bahan baku industri. Selain itu, kerja sama ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan internasional.
Ke depan, implementasi FTA akan menjadi faktor penentu keberhasilan. Koordinasi lintas kementerian, sosialisasi kepada pelaku usaha, serta penyederhanaan prosedur ekspor-impor menjadi kunci. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mempermudah akses informasi pasar dan perizinan.
Dengan penandatanganan FTA yang semakin dekat, Indonesia optimistis perdagangan dengan Uni Ekonomi Eurasia akan melonjak signifikan. Kesepakatan ini tidak hanya memperluas akses pasar, tetapi juga memperkuat fondasi kerja sama ekonomi jangka panjang. Jika dimanfaatkan secara maksimal, FTA RI–EAEU berpotensi menjadi penggerak baru pertumbuhan ekspor, investasi, dan daya saing ekonomi nasional.
