Pemerintah China Perketat Pabrikan Otomotif Mengunggah Data Pribadi
Kompasjakarta.com – Pemerintah China semakin memperketat regulasi soal pengelolaan data pribadi konsumen dalam industri otomotif, khususnya di kendaraan baru yang dilengkapi teknologi terkoneksi dan sistem pintar. Langkah ini mencerminkan perhatian Beijing terhadap privasi dan keamanan data pengguna mobil di era digital, di tengah rapid growth kendaraan pintar dan elektrifikasi sektor otomotif global.
Regulasi terbaru yang sedang dijalankan oleh otoritas China menetapkan aturan jelas bagi pabrikan otomotif domestik maupun asing untuk menyimpan, mengelola, dan memproses data konsumen sesuai standar yang ketat. Aturan ini mencakup aneka bentuk data yang dihasilkan dari kendaraan mulai dari informasi pribadi pengguna, data sensor interior mobil, hingga parameter data penting yang berkaitan dengan penggunaan sistem bantuan pengendaraan (ADAS) dan konektivitas kendaraan.
Fokus Regulasi pada Privasi dan Keamanan Data
Aturan baru tersebut mensyaratkan pabrikan melakukan in‑vehicle processing, yakni memproses data di dalam mobil tanpa otomatis mengirimkannya keluar kecuali diperlukan, serta meminimalkan pengumpulan data yang tidak esensial secara default. Selain itu, perusahaan diwajibkan menerapkan teknik anonymization atau penghilangan identifikasi pribadi agar informasi pengguna tidak mudah diakses atau disalahgunakan tanpa izin eksplisit dari pemilik data.
Seorang pejabat dari Cyberspace Administration of China (CAC) menjelaskan bahwa pemrosesan data penting harus sesuai hukum dan hanya dibagikan ke pihak luar jika telah melalui penilaian keamanan data yang ketat serta tetap menjaga keamanan nasional dan privasi konsumen. Mereka juga menegaskan bahwa data yang dianggap penting harus disimpan di dalam negeri (data localization) untuk mencegah transfer yang tidak diawasi ke luar wilayah Republik Rakyat China.
Mengutip pedoman dan kerangka regulasi terbaru, China juga mengklasifikasikan beberapa jenis data otomatis yang dihasilkan kendaraan sebagai termasuk dalam kategori important data. Ini mencakup data pengembangan produk, fitur navigasional, serta informasi sistem kendaraan modern seperti tahapan bantuan pengendaraan dan konektivitas Internet of Vehicles (IoV).
Pabrikan dan Standar Kepatuhan
Implementasi aturan ini membawa konsekuensi penting bagi merek global yang beroperasi di pasar China, termasuk pabrikan domestik besar seperti BYD dan Chery, yang telah mengikuti penilaian keamanan dan berhasil memenuhi persyaratan nasional untuk model‑model tertentu. Penilaian ini tidak hanya mencakup perlindungan privasi, tetapi juga ketelitian dalam pemrosesan data di kendaraan.
Model yang lulus asesmen tersebut dinilai memenuhi standar lima kriteria keamanan utama, termasuk kemampuan pemrosesan data di dalam kendaraan, pemisahan data penting dari data yang tidak diperlukan, serta persetujuan eksplisit dari pengguna atas pengumpulan informasi pribadi.
Meski demikian, beberapa pihak menilai bahwa risiko ketidaksesuaian aturan ini masih ada di kalangan produsen otomotif internasional yang relatif kurang familiar dengan kerangka regulasi China yang berkembang pesat. Kebutuhan untuk menyesuaikan sistem pengelolaan data internal dan memastikan bahwa semua data penting yang dikumpulkan tidak keluar dari infrastruktur domestik China menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Latar Belakang Penguatan Regulasi Data
Perubahan ini muncul di tengah munculnya tren teknologi otomotif yang semakin mengandalkan konektivitas digital. Kendaraan modern terutama mobil listrik cerdas dan sistem bantuan pengendaraan tingkat lanjut menghasilkan data dalam jumlah besar yang meliputi lokasi, kebiasaan mengemudi, komunikasi di dalam mobil, hingga data sensor multimedia yang sensitif. Regulator China memandang hal ini dapat menimbulkan risiko kebocoran informasi pribadi jika tidak diatur dengan ketat.
Bahkan sejumlah kebijakan sebelumnya, seperti China Cybersecurity Law, sudah menargetkan pengaturan atas data otomotif yang dikumpulkan oleh kendaraan listrik dan kendaraan terkoneksi. Kebijakan ini menekankan bahwa data geolokasi, pola lalu lintas, dan informasi sensor tidak boleh diekspor ke luar negeri tanpa persetujuan otoritas yang relevan, demi melindungi kepentingan strategis negara serta keamanan infrastruktur digital.
Respon Industri dan Konsumen
Beberapa produsen besar menyatakan pandangan positif terhadap regulasi baru ini, menyebutnya sebagai langkah yang memperkuat kepercayaan konsumen terhadap teknologi kendaraan pintar. Dengan persyaratan yang lebih jelas, mereka juga dapat membangun sistem yang lebih transparan dalam pengelolaan data pelanggan yang pada akhirnya dapat memperkuat loyalitas pengguna terhadap merek mereka.
Namun, ada kekhawatiran dari segelintir pihak bahwa kebijakan ini dapat membatasi pengembangan layanan berbasis data yang bersifat global, terutama bagi perusahaan yang melakukan R&D di berbagai negara. Beberapa analis industri menyatakan bahwa pabrikan harus menyeimbangkan antara kebutuhan inovasi teknologi dan kepatuhan terhadap regulasi protektif tersebut, terutama untuk layanan seperti pembaruan perangkat lunak over‑the‑air (OTA), navigasi berbasis cloud, atau fitur pintar lainnya.
Masa Depan dan Tantangan Regulasi
Menatap ke depan, China tampaknya akan terus memperluas penerapan standar keamanan data otomotif di era Internet of Vehicles dan mobil otonom, sejalan dengan ambisi untuk menjadi pemimpin global dalam teknologi kendaraan pintar. Kepatuhan terhadap regulasi baru ini diperkirakan akan menjadi titik kritis dalam strategi penetrasi pasar otomotif global khususnya bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif di pasar China yang luas namun ketat dalam proteksi data.
Kesimpulan:
Regulasi baru yang mewajibkan pabrikan mobil mematuhi standar perlindungan data konsumen menandai era baru dalam industri otomotif China di mana privasi pengguna dan keamanan digital menjadi fokus utama, sembari memastikan bahwa teknologi kendaraan terkoneksi dapat berkembang dengan cara yang lebih aman dan terpercaya di mata publik dan regulator.
