Pakar Internasional Bedah Strategi RI di Tengah Ketidakpastian Global
Kompasjakarta.com – Pakar hubungan internasional menyoroti strategi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global yang terus berkembang, mulai dari ketegangan geopolitik hingga fluktuasi ekonomi internasional. Menurut para ahli, diplomasi aktif dan kebijakan adaptif menjadi kunci agar Indonesia tetap aman, kuat, dan mampu mempertahankan kepentingan nasional di tengah dinamika global.
Dalam seminar yang digelar di Institut Pertahanan dan Hubungan Internasional Jakarta (IPHIJ), Prof. Dr. Ratna Wijaya, pakar hubungan internasional, menekankan bahwa lingkungan global saat ini penuh ketidakpastian, termasuk persaingan kekuatan besar, perubahan iklim geopolitik, hingga risiko ekonomi global.
“Indonesia harus mampu membaca dinamika internasional dan menyesuaikan strategi diplomasi agar tetap relevan dan efektif,” ujar Ratna.
Diplomasi Aktif sebagai Pilar Strategi
Menurut Prof. Ratna, diplomasi aktif menjadi salah satu pilar utama strategi Indonesia. Diplomasi ini tidak hanya bersifat bilateral, tetapi juga multilateral, termasuk keterlibatan aktif dalam forum internasional seperti ASEAN, PBB, G20, dan forum regional lainnya.
“Diplomasi Indonesia harus mendorong kepentingan nasional sambil tetap menjaga hubungan baik dengan semua pihak. Diplomasi yang fleksibel memungkinkan kita menyesuaikan sikap dengan kondisi global yang berubah cepat,” jelasnya.
Dalam konteks ini, Indonesia juga terus menekankan peran sebagai penengah atau mediator dalam konflik regional, memanfaatkan posisi geografis dan politiknya yang strategis. Upaya ini membantu memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang stabil dan dapat diandalkan di kawasan Asia Tenggara.
Kebijakan Adaptif Hadapi Ketidakpastian Global
Selain diplomasi, kebijakan adaptif menjadi komponen penting. Pakar hubungan internasional menilai bahwa pemerintah Indonesia perlu menyesuaikan kebijakan ekonomi, pertahanan, dan energi agar lebih responsif terhadap perubahan global.
“Misalnya, dalam hal ekonomi, diversifikasi perdagangan dan investasi menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara atau blok ekonomi tertentu. Begitu juga di sektor energi, Indonesia harus siap menghadapi volatilitas harga minyak dan gas di pasar global,” tutur Prof. Ratna.
Kebijakan adaptif juga mencakup pembangunan kapasitas nasional, termasuk penguatan industri strategis, ketahanan pangan, dan inovasi teknologi. Semua langkah ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memanfaatkan peluang yang muncul di tengah ketidakpastian global.
Peran Indonesia di ASEAN dan Dunia
Para pakar menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis di ASEAN dan dunia. Dengan populasi besar, ekonomi yang terus berkembang, dan stabilitas politik relatif terjaga, Indonesia berpotensi menjadi pemimpin regional dalam menghadapi tantangan global.
“Indonesia dapat memanfaatkan posisi ini untuk memimpin inisiatif kerjasama regional, baik di bidang ekonomi, keamanan, maupun perubahan iklim. Kepemimpinan yang bijak akan memberi keuntungan diplomatik sekaligus meningkatkan posisi tawar negara,” kata Prof. Ratna.
Tantangan dan Kesiapan Nasional
Meski demikian, tantangan tetap besar. Ketegangan geopolitik global, persaingan teknologi, dan perubahan iklim ekonomi bisa mempengaruhi posisi Indonesia jika tidak ditangani dengan strategi yang matang. Pakar menekankan perlunya skenario kontinjensi, peningkatan kapasitas diplomasi, dan sinergi antara kementerian/lembaga agar Indonesia tetap tangguh menghadapi krisis potensial.
“Kita harus siap menghadapi segala kemungkinan. Sinergi pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta sangat penting untuk memastikan strategi adaptif berjalan efektif,” ujar Ratna.
Strategi Indonesia Hadapi Era Global Tidak Pasti
Pakar hubungan internasional menegaskan bahwa strategi Indonesia harus bersifat proaktif, adaptif, dan fleksibel. Diplomasi aktif, kebijakan adaptif, pembangunan kapasitas nasional, serta pemanfaatan posisi strategis Indonesia di ASEAN dan dunia menjadi kunci menghadapi ketidakpastian global.
Prof. Ratna menutup paparannya dengan pesan optimistis, “Indonesia memiliki semua modal untuk tetap stabil, aman, dan berdaya saing. Selama strategi dijalankan secara konsisten dan cerdas, negara kita akan mampu menghadapi ketidakpastian global dengan percaya diri.”
