Gelondongan Kayu Terbawa Banjir Bandang di Sumut Disorot, Ini Kata Gubsu Bobby
Kompasjakarta.com – Banjir bandang yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Utara (Sumut) dalam beberapa hari terakhir kembali menjadi sorotan publik. Fenomena alam ini tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur dan memaksa evakuasi warga, tetapi juga membawa gelondongan kayu dalam jumlah besar, yang semakin memperparah kondisi di lokasi terdampak. Gubernur Sumut, Bobby Nasution, angkat bicara terkait hal ini, memberikan klarifikasi sekaligus menjelaskan langkah-langkah yang telah dan akan diambil pemerintah provinsi untuk menangani situasi kritis ini.
Peristiwa banjir bandang terjadi setelah hujan deras yang mengguyur wilayah pegunungan dan dataran tinggi Sumut. Hujan intens selama beberapa hari memicu luapan sungai-sungai kecil yang mengalir ke pemukiman warga, membawa material berupa lumpur, batu, dan gelondongan kayu dari hulu sungai. Material kayu yang terbawa arus sungai menjadi masalah serius karena dapat menimbulkan kerusakan tambahan pada rumah, jembatan, dan fasilitas publik, sekaligus menghambat proses evakuasi serta distribusi bantuan.
Bobby Nasution menyampaikan bahwa fenomena gelondongan kayu hanyut ini bukanlah hal yang sepenuhnya baru, namun intensitasnya meningkat akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia.
“Kami melihat fenomena ini bukan hanya dampak alam semata. Penebangan liar di hulu, pengelolaan hutan yang kurang optimal, serta perubahan tata guna lahan menjadi faktor yang memperparah banjir dan membawa kayu ke pemukiman,” ujarnya dalam konferensi pers di Medan.
Lebih lanjut, Gubernur menekankan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah mitigasi darurat untuk mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut. Tim gabungan dari BPBD Sumut, TNI, Polri, dan dinas terkait segera diterjunkan ke lokasi-lokasi kritis untuk membersihkan gelondongan kayu dan mengevakuasi warga.
“Kami fokus pada keselamatan masyarakat dan mempercepat pemulihan infrastruktur yang terdampak. Pembersihan gelondongan kayu menjadi prioritas, karena jika dibiarkan, arus sungai tetap bisa memicu kerusakan baru,” tambah Bobby.
Pemerintah provinsi juga menggandeng masyarakat lokal dan relawan untuk membantu proses evakuasi dan penanganan darurat. Beberapa desa di hilir sungai yang paling terdampak kini menjadi titik fokus kerja tim gabungan. Relawan membantu warga mengevakuasi barang berharga, membersihkan puing-puing, serta mengatur aliran air sementara agar tidak menumpuk di pemukiman. Bobby menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menghadapi bencana alam ini.
“Kita semua harus bergotong royong. Pemerintah bisa memimpin, tapi partisipasi warga sangat menentukan efektivitas mitigasi,” ujarnya.
Dampak dari banjir bandang ini juga dirasakan pada sektor transportasi dan ekonomi lokal. Jalan-jalan penghubung desa rusak parah akibat kayu dan lumpur yang menumpuk, sehingga distribusi logistik menjadi terhambat. Pedagang lokal dan petani mengaku kesulitan mengirim hasil panen ke kota, sementara kerusakan fasilitas pasar lokal menambah beban ekonomi. Pemerintah provinsi telah menyalurkan bantuan darurat berupa bahan makanan, obat-obatan, dan peralatan evakuasi, namun proses pemulihan penuh diperkirakan memakan waktu beberapa minggu.
Selain penanganan darurat, Bobby Nasution menekankan perlunya langkah jangka panjang untuk mencegah dampak serupa di masa mendatang. Beberapa langkah yang tengah dipertimbangkan antara lain penguatan penataan hulu sungai, reboisasi, pengawasan ketat terhadap penebangan liar, serta edukasi masyarakat terkait pengelolaan lingkungan yang ramah bencana. Pemerintah provinsi juga berencana memasang jaringan peringatan dini di titik-titik rawan banjir untuk memperingatkan warga sejak awal.
“Kita harus belajar dari bencana ini. Pencegahan lebih baik daripada penanganan pasca-bencana. Reboisasi dan pengelolaan hutan yang baik akan mengurangi gelondongan kayu terbawa arus, sekaligus memperlambat aliran air saat hujan deras,” jelas Bobby.
Ia juga mengimbau warga untuk tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah terkait evakuasi jika kondisi cuaca ekstrem kembali terjadi. Fenomena gelondongan kayu terbawa banjir bandang di Sumut ini juga mendapat perhatian dari media nasional dan internasional. Analisis awal menyebut bahwa kejadian ini menunjukkan perlunya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk memperkuat ketahanan daerah terhadap bencana alam. Gubernur Bobby berharap sorotan media tidak hanya fokus pada dampak kerusakan, tetapi juga pada upaya mitigasi dan langkah-langkah pencegahan yang telah dilakukan pemerintah provinsi.
Hingga saat ini, data awal dari BPBD Sumut mencatat puluhan rumah rusak, beberapa jembatan putus, dan ribuan warga terdampak. Tim darurat terus memantau kondisi di lapangan, sementara peralatan berat digunakan untuk membersihkan gelondongan kayu dan material banjir lain yang menumpuk di aliran sungai. Pemerintah juga memastikan bahwa layanan kesehatan, logistik, dan komunikasi tetap berjalan meski sebagian jaringan telekomunikasi sempat terganggu akibat banjir. Bobby Nasution menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen pemerintah provinsi Sumut.
“Keselamatan warga adalah prioritas utama. Kami akan bekerja tanpa henti hingga semua masyarakat kembali aman dan infrastruktur pulih. Kami juga belajar dari setiap bencana untuk membangun Sumut yang lebih tangguh menghadapi alam.”
Dengan langkah darurat dan strategi mitigasi jangka panjang yang diterapkan, diharapkan dampak dari gelondongan kayu terbawa banjir bandang dapat diminimalkan, serta masyarakat Sumut dapat kembali beraktivitas dengan aman dan tenang. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kesadaran lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab untuk menghadapi tantangan alam yang semakin kompleks.
