Kompasjakarta.com – Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran dan figur oposisi yang bermukim di luar negeri, kembali menyerukan intervensi internasional guna membantu rakyat Iran dalam perjuangan mereka melawan rezim Republik Islam. Pernyataan tersebut disampaikan dalam beberapa kesempatan, termasuk saat ia berbicara di Konferensi Keamanan Munich 2026 serta melalui berbagai seruan publik kepada diaspora Iran dan komunitas internasional.
Pahlavi, yang merupakan anak dari Shah terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, menyatakan bahwa Iran saat ini berada dalam fase penting perubahan. Ia menilai bahwa rakyat Iran membutuhkan faktor penyeimbang dari komunitas internasional untuk melemahkan instrumen penindasan rezim dan memberi mereka kesempatan mencapai solusi politik yang adil.
Seruan Reformasi dan Dukungan Global
Dalam pidatonya di Munich, Reza Pahlavi menekankan bahwa rakyat Iran, yang melakukan aksi protes massal, membutuhkan dukungan dari negara-negara demokratis di luar negeri untuk menghadapi kekuatan represif Tehran. Ia mengajak warga Iran di dalam dan luar negeri untuk terus menggelar demonstrasi menentang pemerintah yang dipimpin oleh ulama.
“Saya pikir banyak warga Iran di dalam dan luar negeri berharap bahwa intervensi yang akan menetralkan instrumen penindasan rezim akhirnya akan memberi kami kesempatan untuk solusi akhir,” ujarnya.
Seruan ini bukan pertama kali dilontarkan oleh Pahlavi dalam beberapa bulan terakhir. Ia juga menginstruksikan diaspora Iran untuk memobilisasi aksi di berbagai kota dunia termasuk Munich, Toronto, dan Los Angeles untuk menekan komunitas internasional agar mengambil langkah nyata dalam mendukung rakyat Iran.
Konteks Protes dan Represi di Dalam Negeri
Protes di Iran sendiri dipicu oleh ketidakpuasan luas terhadap kondisi politik, ekonomi, dan hak asasi manusia di bawah Republik Islam. Gerakan protes tersebut sering kali dibalas dengan tindakan keras oleh aparat keamanan, yang menurut beberapa kelompok hak asasi manusia telah menewaskan ribuan demonstran dalam beberapa gelombang unjuk rasa. Meski angka pasti sulit diverifikasi, laporan independen dan video yang beredar secara luas menunjukkan adanya kekerasan berat dalam upaya meredam aksi rakyat.
Rakyat Iran yang turun ke jalan menuntut kebebasan lebih besar, reformasi politik, dan akuntabilitas atas pelanggaran hak asasi. Dalam konteks itu, Pahlavi memandang dukungan internasional sebagai elemen penting untuk membantu menetralkan kekuatan represif yang telah lama menjadi penghalang bagi perubahan.
Tekanan Diplomatik dan Sanksi Luar Negeri
Seruan Pahlavi juga mencakup permintaan kepada negara-negara Barat dan organisasi internasional untuk memberlakukan tekanan diplomatik dan sanksi lanjutan terhadap rezim Tehran. Ia berargumen bahwa tekanan semacam itu dapat mempersempit ruang manuver rezim dalam melakukan represi dan membuka jalan bagi reformasi struktural.
Beberapa demonstrasi di luar negeri, seperti yang dilaporkan berlangsung di Australia dan Eropa, memperlihatkan solidaritas rakyat Iran di diaspora. Para demonstran menyerukan komunitas internasional agar lebih proaktif dalam merespons krisis di Iran, termasuk melalui langkah diplomatik dan bantuan kemanusiaan.
Tantangan dan Kontroversi yang Mengiringi Seruan Intervensi
Seruan intervensi internasional dari Pahlavi tidak lepas dari kontroversi. Sebagian pihak mengkhawatirkan potensi eskalasi konflik jika negara-negara luar secara langsung mencampuri urusan dalam negeri Iran. Pemerintah Tehran sendiri sering menuduh negara-negara Barat berusaha menghasut kekacauan, dan telah mengancam reaksi keras terhadap presiden serta aktor politik asing yang dianggap campur tangan.
Selain itu, dukungan Pahlavi terhadap keterlibatan negara-negara tertentu dalam urusan Iran juga menuai kritik di kalangan oposisi. Sebagian menganggap bahwa perubahan internal perlu datang dari rakyat Iran sendiri dan bukan semata karena tekanan luar. Namun, Pahlavi bersikeras bahwa solidaritas dan dukungan internasional tetap menjadi bagian penting dari perjuangan rakyat Iran untuk mendapatkan kebebasan dan reformasi.
Masa Depan Perubahan Politik di Iran
Pahlavi sendiri telah menegaskan komitmennya pada masa depan demokratis bagi Iran. Dalam paparan sebelumnya, ia menawarkan peluang bagi elemen-elemen rezim yang bersedia bergabung dalam transisi politik tanpa kekerasan, dengan tujuan membangun Iran yang lebih stabil dan demokratis. Langkah semacam ini menunjukkan bahwa seruan intervensi internasional bukan hanya tuntutan destruktif, tetapi bagian dari upaya lebih luas untuk reformasi politik.
Seiring dinamika protes di lapangan terus berkembang, perdebatan tentang peran komunitas internasional tetap menjadi isu penting dalam wacana soal masa depan Iran. Sementara pengaruh seruan Pahlavi terhadap perubahan nyata masih harus dilihat dalam konteks geopolitik yang kompleks, suaranya tetap menjadi salah satu yang paling vokal dalam oposisi terhadap rezim yang berkuasa.
Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran, kembali memposisikan diri sebagai wajah oposisi dengan menyerukan intervensi internasional untuk mendukung rakyat Iran yang sedang berjuang menentang rezim Republik Islam. Dengan tekanan diplomatik, sanksi tambahan, dan aksi solidaritas global dianggap oleh Pahlavi sebagai komponen penting dari strategi perubahan politik di Iran. Namun, seruan ini juga menghadapi tantangan signifikan, baik dari perspektif geopolitik maupun dari dinamika internal Iran sendiri.
