Januari 15, 2026

Sumber Terupdate untuk Pebisnis di Jakarta

Banyak yang Salah Kaprah, Thailand Tutup Ribuan Bisnis Ganja

Banyak yang Salah Kaprah, Thailand Tutup Ribuan Bisnis Ganja

Kompasjakarta.comThailand mengambil langkah tegas dengan menutup ribuan bisnis ganja di seluruh negeri setelah banyak turis dan warga lokal salah memahami aturan konsumsi dan perdagangan ganja. Langkah ini muncul sebagai respons pemerintah terhadap kekacauan yang ditimbulkan sejak liberalisasi regulasi ganja pada awal tahun.

Pada 2022, Thailand menjadi negara Asia Tenggara pertama yang melegalkan sebagian penggunaan ganja, termasuk untuk tujuan medis dan kuliner, serta membolehkan penjualan di restoran dan kafe tertentu. Regulasi ini awalnya dimaksudkan untuk mendorong ekonomi kreatif, pariwisata, dan penelitian medis. Namun, implementasinya menimbulkan kebingungan, terutama bagi turis asing yang tidak familiar dengan batasan hukum.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah mencatat peningkatan signifikan jumlah turis dan penduduk yang melanggar aturan konsumsi. Banyak yang menganggap ganja bisa dikonsumsi bebas tanpa batasan usia atau lokasi, sementara beberapa pemilik bisnis memasarkan produk ganja secara terbuka, bahkan di tempat umum yang seharusnya dilarang. Kondisi ini memicu kekhawatiran tentang keselamatan publik, kesehatan, dan citra pariwisata Thailand.

Akibatnya, Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Narkotika Thailand mengeluarkan peringatan tegas dan melakukan inspeksi besar-besaran. Ribuan bisnis yang terbukti melanggar regulasi, termasuk kafe, restoran, dan penjual eceran, diperintahkan untuk ditutup sementara atau permanen. Pihak berwenang menekankan bahwa langkah ini bukan untuk melarang ganja secara keseluruhan, tetapi untuk menegakkan aturan dan melindungi masyarakat dari penyalahgunaan.

“Regulasi ganja di Thailand bukan berarti bebas tanpa batas. Ada aturan ketat yang harus dipatuhi, terutama mengenai usia konsumen, tempat konsumsi, dan label produk,” ujar seorang pejabat kementerian. “Langkah penutupan bisnis ini diambil untuk memastikan semua pihak memahami dan menaati aturan yang berlaku.”

Dampak penutupan bisnis ini cukup signifikan, terutama bagi pemilik usaha yang sebelumnya melihat ganja sebagai peluang ekonomi baru. Banyak pelaku usaha kecil yang menginvestasikan modal untuk membuka kafe ganja atau toko kuliner berbasis ganja kini menghadapi kerugian finansial akibat penutupan mendadak. Di sisi lain, para pengamat menilai tindakan pemerintah perlu untuk menjaga keamanan publik dan menegakkan hukum, sekaligus memberi edukasi tentang penggunaan ganja yang aman dan legal.

Pihak pariwisata Thailand juga menyatakan keprihatinan, mengingat popularitas ganja sebagai daya tarik wisata sempat meningkat. Namun, mereka menegaskan bahwa langkah ini bertujuan menyeimbangkan antara promosi industri kreatif dengan keselamatan pengunjung dan reputasi negara. Pemerintah kini fokus pada kampanye edukasi, sosialisasi aturan, dan pendampingan bagi pemilik usaha agar bisnis ganja bisa beroperasi secara legal dan bertanggung jawab.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi negara lain yang mulai mempertimbangkan liberalisasi ganja. Regulasi yang jelas, sosialisasi kepada masyarakat dan turis, serta pengawasan ketat terbukti sangat penting untuk mencegah salah kaprah dan penyalahgunaan. Thailand sendiri menekankan bahwa meskipun ganja dilegalkan sebagian, kepatuhan hukum tetap menjadi prioritas utama.

Dengan langkah tegas ini, Thailand berharap bisa menegakkan aturan, melindungi masyarakat, dan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi dari sektor ganja secara bertanggung jawab. Pemerintah menekankan bahwa tujuan akhir bukan sekadar pelarangan, tetapi menciptakan ekosistem ganja yang aman, legal, dan berkelanjutan bagi warga dan pengunjung.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.