Core Tak Yakin Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh Lebih dari 5,1 Persen
Kompasjakarta.com – Lembaga pemikir ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengeluarkan proyeksi yang cukup hati-hati untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026. Dalam brief report terbarunya, CORE memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional hanya akan berada di kisaran 4,9 – 5,1 persen, menunjukkan prospek dalam batas moderat meskipun tetap menunjukkan daya tahan perekonomian.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyatakan bahwa hingga awal tahun ini belum muncul sinyal kuat yang menunjukkan akselerasi tajam pada indikator utama pertumbuhan. Hal ini pada gilirannya membuat perekonomian Indonesia sulit untuk benar-benar menembus angka lebih dari 5,1 persen secara signifikan.
Faktor Eksternal, Tekanan Global yang Berlanjut
Salah satu alasan utama proyeksi moderat tersebut adalah tekanan dari ekonomi global yang diperkirakan tetap lesu sepanjang 2026. Banyak negara mitra dagang Indonesia menghadapi perlambatan pertumbuhan, hambatan perdagangan, serta gangguan rantai pasok akibat kenaikan tarif perdagangan internasional dan konflik geopolitik. Kondisi ini diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekspor Indonesia salah satu komponen yang selama ini memberi kontribusi penting terhadap perekonomian nasional sehingga berdampak pada pertumbuhan output secara keseluruhan.
Net ekspor diramalkan mengalami penyempitan berkembang, karena laju permintaan global belum sepenuhnya pulih sepenuhnya, sementara biaya perdagangan internasional diperkirakan tetap tinggi. Dampak ini masih akan terasa pada kinerja ekspor Indonesia sepanjang 2026, menekan laju pertumbuhan secara keseluruhan.
Tantangan Domestik yang Belum Teratasi
Selain pengaruh eksternal, faktor domestik juga menjadi penahan laju pertumbuhan ekonomi. CORE menyatakan bahwa indikator penting seperti konsumsi rumah tangga dan investasi diperkirakan tidak akan menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Aktivitas konsumsi, yang selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, diproyeksikan hanya mengalami peningkatan marginal.
Faktor lainnya adalah melambatnya pertumbuhan kredit konsumsi dalam beberapa bulan terakhir. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit untuk konsumsi yang awalnya cukup tinggi di awal tahun mengalami penurunan tajam, mencerminkan kehati-hatian konsumen dalam berbelanja dan berutang di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Selain itu, pemulihan sektor properti dan investasi masih berjalan lambat. Indikator pasar perumahan menurun, sementara masuknya modal asing belum menunjukkan tren kenaikan yang kuat, yang menciptakan tantangan lebih dalam merangsang ekspansi usaha domestik.
Respon Kebijakan dan Harapan Stabilitas
Walaupun pertumbuhan diperkirakan akan berada di bawah ekspektasi penuh, CORE tetap menilai bahwa perekonomian nasional memiliki ketahanan struktural yang relatif solid. Pemerintah dan Bank Indonesia telah menerapkan berbagai kebijakan moneter dan fiskal yang cukup akomodatif untuk meredam dampak perlambatan global, termasuk kebijakan diskresi fiskal, stimulus untuk konsumsi dan investasi, serta dukungan stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan.
Namun demikian, sejauh ini kebijakan tersebut belum mampu mendorong pertumbuhan secara signifikan di atas kisaran moderat. Tanpa adanya lonjakan besar pada konsumsi, investasi, atau ekspor, lagu perekonomian Indonesia diperkirakan masih berjalan dalam tempo yang stabil namun terbatas pada kisaran 4,9 – 5,1 persen.
Respons dan Proyeksi Lembaga Lain
Pendapat CORE relatif sejalan dengan proyeksi sejumlah lembaga internasional lain. Misalnya, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia tetap stabil dan resilient namun tidak mengalami akselerasi signifikan, dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan bertahan di sekitar angka 5 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Sementara laporan dari OECD juga menunjukkan tren pertumbuhan moderat pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia, dengan konsumsi domestik tetap menjadi motor utama pertumbuhan, sementara investasi dan ekspor masih berjuang di tengah tekanan global.
Tantangan dan Peluang Ekonomi 2026
CORE Indonesia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sulit tumbuh di atas 5,1 persen pada 2026, terutama akibat kombinasi tekanan eksternal dari kondisi global yang lesu dan hambatan domestik yang belum sepenuhnya teratasi. Meskipun Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang relatif tangguh, percepatan pertumbuhan masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal konsumsi, investasi, dan ekspor.
Proyeksi moderat ini menjadi peringatan bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat untuk bersiap menghadapi dinamika ekonomi yang penuh ketidakpastian. Fokus pada penguatan konsumsi domestik, mendorong investasi, serta kebijakan pro-pertumbuhan yang tepat akan menjadi kunci untuk menjaga momentum dan menjalankan perekonomian Indonesia di era yang semakin kompetitif.
