Penjualan Mobil Listrik di Negara Ini Hampir 100%
Kompasjakarta.com – Seiring kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) di banyak negara, tren penjualan mobil listrik (EV) semakin menguat secara global. Di beberapa negara maju, terutama di Eropa utara, transisi ini bahkan mencapai titik di mana hampir semua mobil baru yang terdaftar adalah kendaraan listrik. Transformasi ini dipacu tidak hanya oleh faktor ekonomi seperti harga bensin yang semakin mahal, tetapi juga oleh kebijakan lingkungan dan insentif pemerintah yang agresif.
Salah satu kisah sukses paling mencolok datang dari Norwegia, negara yang dikenal sangat ambisius dalam upaya menghapus penjualan kendaraan berbahan bakar fosil. Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sekitar 95,9% dari semua mobil baru yang terdaftar di Norwegia adalah kendaraan listrik, dengan angka yang mendekati 97,6% di bulan Desember 2025 angka yang hampir 100%. Bahkan hanya sebagian kecil mobil bensin dan diesel yang berhasil masuk daftar penjualan tahunan.
Pencapaian ini tidak terjadi begitu saja. Norwegia sejak awal menerapkan serangkaian kebijakan kuat, termasuk bebas pajak untuk mobil listrik, insentif fiskal, dan kendala biaya signifikan bagi pembelian serta pengoperasian kendaraan berbahan bakar fosil. Langkah ini membuat pilihan kendaraan listrik menjadi lebih murah dan lebih menarik secara finansial bagi konsumen dibandingkan dengan mobil bensin tradisional.
Selain itu, infrastruktur pengisian baterai di Norwegia sangat maju dengan ribuan titik pengisian publik yang tersebar di seluruh negeri — sehingga meminimalkan kekhawatiran pemilik EV tentang jarak tempuh (range anxiety). Dukungan semacam ini menambah daya tarik bagi konsumen yang sebelumnya skeptis terhadap kendaraan listrik.
Fenomena dominasi mobil listrik tidak hanya terjadi di Norwegia. Tren global menunjukkan peningkatan penjualan EV secara signifikan, meskipun tidak semua negara mencapai persentase setinggi itu. Data dari International Energy Agency dan lembaga riset lain mengungkap bahwa penjualan EV di banyak pasar dunia terus tumbuh dua digit setiap tahunnya, dan jumlah EV terjual melebihi 20 juta unit global pada 2025.
Salah satu faktor utama yang memicu pergeseran ini adalah tingginya biaya bahan bakar fosil. Ketika harga bensin dan diesel melonjak, biaya operasional kendaraan berbahan bakar fosil menjadi jauh lebih mahal dibandingkan biaya ‘pengisian’ mobil listrik yang menggunakan listrik. Dalam jangka panjang, efisiensi biaya operasional membuat EV semakin menarik bagi konsumen yang sadar anggaran.
Selain itu, faktor lingkungan turut mempercepat adopsi EV. Pemerintah di banyak negara memperkenalkan target pengurangan emisi, larangan bertahap untuk kendaraan pembakaran internal, dan regulasi yang menekan industri otomotif tradisional agar beralih ke solusi yang lebih bersih. Hal ini semakin mendorong konsumen dan produsen untuk menempatkan kendaraan listrik sebagai pilihan utama masa depan.
Pemerintah di negara-negara terkemuka memberikan berbagai insentif fiskal dan non-fiskal untuk mempercepat adopsi mobil listrik. Di Norwegia, misalnya, konsumen EV menikmati pembebasan PPN, pembebasan biaya tol, serta akses jalur cepat atau bus lane, yang semuanya membantu menurunkan biaya kepemilikan mobil listrik secara signifikan. Kebijakan semacam ini menciptakan daya tarik besar bagi konsumen yang sebelumnya mungkin ragu untuk beralih dari kendaraan bensin.
Sementara itu di negara-negara lain, insentif berupa subsidi harga pembelian, kredit pajak, dan dukungan investasi infrastruktur charging diperkenalkan untuk mempermudah penduduk beralih ke kendaraan listrik. Kebijakan-kebijakan ini terbukti efektif dalam mendorong adopsi EV dalam pasar yang lebih luas, termasuk di beberapa negara berkembang yang kini melihat pertumbuhan pesat dalam permintaan EV meskipun dari basis yang lebih kecil dibandingkan dengan Norwegia.
Meskipun pertumbuhan EV mengesankan, tantangan tetap ada. Tantangan tersebut termasuk keterbatasan jaringan pengisian cepat di luar negara-negara maju, biaya awal pembelian yang relatif tinggi di beberapa pasar, serta ketergantungan pada pasokan baterai dan material langka. Namun, industri otomotif global terus berinovasi, dengan investasi besar ke teknologi baterai baru dan ekspansi infrastruktur yang semakin cepat
Di tengah tren ini, banyak analis percaya bahwa kita berada di titik balik besar dalam sejarah otomotif, di mana kendaraan listrik bukan lagi sekadar alternatif, tetapi menjadi pilihan utama konsumen di berbagai negara terutama di negara-negara dengan kebijakan lingkungan progresif dan dukungan ekonomi yang kuat untuk transisi energi bersih.
Dominasi mobil listrik dalam penjualan kendaraan baru hampir mencapai 100% seperti yang terjadi di Norwegia menggambarkan perubahan besar dalam perilaku konsumen dan sistem mobil global. Faktor seperti kenaikan harga bensin, insentif pemerintah, kemajuan teknologi, serta meningkatnya kesadaran lingkungan turut mendorong transisi ini.
Tren ini bukan hanya soal teknologi otomotif, tetapi juga soal transformasi sosial dan ekonomi yang lebih luas. Ketika semakin banyak negara mengikuti jejak transisi energi bersih, masa depan kendaraan bermotor tampaknya semakin hijau, efisien, dan berkelanjutan.
