Sibolga-Tapteng Diterjang Banjir dan Longsor, Jaringan Telekomunikasi Terputus
Kompasjakarta.com – Sibolga–Tapanuli Tengah (Tapteng) kembali diterjang bencana alam serius pada awal pekan ini. Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatera Utara sejak Senin malam memicu banjir bandang dan tanah longsor di beberapa titik kritis, termasuk jalan utama dan permukiman warga. Dampak paling terasa adalah terputusnya jaringan telekomunikasi, yang membuat warga dan tim tanggap darurat kesulitan berkomunikasi untuk koordinasi evakuasi dan distribusi bantuan.
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, hujan deras selama lebih dari 12 jam mengakibatkan aliran sungai meluap dan tanah di perbukitan labil bergerak, menimbulkan longsor di jalur utama antara Sibolga dan Tapteng.
“Kondisi saat ini sangat darurat. Beberapa permukiman terendam, dan jalur transportasi utama terputus. Tim kami berusaha membuka akses darurat secepat mungkin,” ujar Kepala BPBD Sibolga, Rudi Hartono, Selasa pagi.
Selain longsor, banjir juga menimpa pemukiman warga di sejumlah desa dataran rendah. Ketinggian air dilaporkan mencapai 1,5 hingga 2 meter di beberapa titik, memaksa ratusan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, dan Polri telah dikerahkan untuk membantu evakuasi, namun kondisi medan yang sulit memperlambat proses penyelamatan.
Dampak terparah muncul pada jaringan telekomunikasi. Putusnya koneksi internet dan telepon membuat warga tidak bisa menghubungi keluarga maupun pihak berwenang. Informasi tentang lokasi pengungsian, kondisi jalan, dan permintaan bantuan menjadi terbatas.
“Kami kesulitan memberi kabar kepada keluarga di luar daerah. Bahkan petugas kami harus berjalan kaki beberapa kilometer untuk menemukan sinyal komunikasi,” kata salah seorang warga Desa Aek Habil, Tapteng, yang terdampak banjir.
BPBD bersama operator telekomunikasi lokal sedang berupaya memulihkan jaringan. Namun, kondisi alam yang ekstrem dan banyaknya pohon tumbang menghambat perbaikan kabel dan perangkat telekomunikasi. Sementara itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, terutama di daerah perbukitan dan tepi sungai yang labil.
Selain dampak langsung, bencana ini menimbulkan sejumlah masalah tambahan. Akses listrik terputus di beberapa lokasi, pasokan air bersih terganggu, dan jalan utama terhambat material longsor. Tim medis juga menghadapi kesulitan menjangkau pasien yang membutuhkan pertolongan segera.
“Situasinya kritis. Kami menyiapkan posko darurat di beberapa titik agar pelayanan medis tetap bisa dijangkau oleh warga,” jelas dr. Sari Wulandari, Kepala Puskesmas Sibolga.
Pemerintah daerah menghimbau warga agar tidak panik dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Bagi masyarakat yang masih berada di area rawan longsor atau banjir, dianjurkan segera mengungsi ke lokasi aman yang telah disediakan, seperti gedung sekolah, masjid, atau balai desa. Pemerintah juga mengimbau warga untuk menyiapkan kebutuhan dasar, termasuk air bersih, makanan, dan obat-obatan.
Bencana ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim hujan yang ekstrem. Beberapa ahli geologi dan klimatologi memperingatkan bahwa wilayah Sumatera Utara memiliki topografi rawan longsor dan banjir. Intensitas hujan yang meningkat akibat perubahan iklim menambah risiko bencana.
“Pemerintah daerah perlu meningkatkan mitigasi, seperti pembangunan drainase yang baik, revegetasi perbukitan, dan sistem peringatan dini untuk warga,” ujar Dr. Ahmad Fauzi, pakar geologi dari Universitas Sumatera Utara.
Sementara itu, masyarakat lokal juga diminta untuk saling membantu dan tetap tenang menghadapi situasi darurat. Relawan dan organisasi kemanusiaan telah bergerak cepat memberikan bantuan logistik, termasuk makanan, air bersih, dan selimut. Namun, tantangan terbesar tetap pada akses komunikasi yang terbatas dan medan yang sulit dilalui.
Bencana banjir dan longsor di Sibolga-Tapteng menunjukkan bahwa koordinasi dan kesiapsiagaan menjadi faktor kunci dalam penanggulangan bencana. Meski jaringan telekomunikasi terganggu, upaya gabungan BPBD, aparat keamanan, dan relawan menunjukkan kerja sama yang solid untuk memastikan keselamatan warga.
“Kami akan terus memantau situasi dan memastikan setiap warga mendapatkan bantuan secepat mungkin,” tegas Rudi Hartono, Kepala BPBD Sibolga.
Pihak berwenang menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat hingga cuaca membaik. Hujan diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, sehingga potensi banjir susulan dan longsor tetap ada. Pemerintah daerah berkomitmen untuk memulihkan kondisi secepat mungkin dan memperkuat infrastruktur agar bencana serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan relawan, diharapkan warga Sibolga-Tapteng dapat melewati masa darurat ini dengan aman, meskipun tantangan komunikasi dan akses menjadi hambatan sementara. Pemulihan kondisi fisik wilayah dan jaringan telekomunikasi menjadi prioritas utama agar layanan darurat dan bantuan kemanusiaan dapat berjalan optimal.
