Februari 16, 2026

Sumber Terupdate untuk Pebisnis di Jakarta

Perlambatan Ekonomi China Tak Halangi Lahirnya Miliarder Baru

Perlambatan Ekonomi China Tak Halangi Lahirnya Miliarder Baru

Kompasjakarta.comMeski ekonomi China mengalami perlambatan pertumbuhan di tengah tekanan global, pelemahan sektor properti, dan berkurangnya investasi tetap signifikan, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini justru mencatat gelombang lahirnya miliarder baru terutama dari sektor teknologi canggih dan investasi strategis yang tengah berkembang pesat.

Bank Dunia bahkan telah merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi China pada 2025 berkat permintaan domestik dan kebijakan fiskal moneter yang terus mendukung konsumsi dan investasi lokal. Namun para pengamat tetap mengakui bahwa pertumbuhan keseluruhan lambat dan sangat bergantung pada transformasi struktural ekonomi.

Ekonomi Perlahan, Tapi Kekayaan Justru Meningkat

Data UBS terbaru menunjukkan bahwa jumlah miliarder di China Daratan meningkat menjadi sekitar 470 orang pada 2025, meningkat dari sekitar 427 orang tahun lalu. Total kekayaan para miliarder China pun mencapai sekitar USD 1,77 triliun (sekitar Rp29.500 triliun), atau naik 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun sektor ekonomi tradisional seperti properti dan manufaktur berat mengalami penurunan investasi dan pertumbuhan, segmen teknologi canggih, terutama teknologi chip dan kecerdasan buatan (AI), menjadi motor penciptaan kekayaan baru.

Sebuah laporan terbaru mengungkap bahwa startup chip AI seperti MetaX Integrated Circuits Shanghai berhasil melakukan penawaran umum perdana (IPO) yang spektakuler. Saham perusahaan ini melonjak tajam di hari pertama perdagangan sekitar 755 persen yang langsung mengantar salah satu pendirinya menjadi miliarder dengan kekayaan sekitar USD 6,5 miliar. Sementara itu, Moore Threads Technology dan Cambricon Technologies yang bergerak di sektor teknologi chip ikut mencatat lonjakan kekayaan para pendirinya hingga miliaran dolar.

Dominasi Teknologi dan AI

Penciptaan miliarder teknologi ini menjadi sebuah fenomena penting di tengah perlambatan ekonomi secara umum. Sektor teknologi AI dan semikonduktor kini menjadi destinasi investasi yang sangat menarik di China, karena permintaan global untuk solusi AI terus meningkat. Pengembangan model-model AI, GPU domestik, dan teknologi terkait membuka peluang besar bagi perusahaan-perusahaan domestik yang mampu mengurangi ketergantungan pada impor chip dan perangkat keras dari luar negeri.

China memang menghadapi tantangan besar dalam menstimulasi konsumsi domestik dan mengatasi stagnasi investasi, khususnya pada sektor properti dan konsumsi retail. Bahkan pertumbuhan penjualan ritel sempat menunjukkan angka pertumbuhan paling lemah dalam beberapa tahun terakhir. Namun hal itu tidak menghentikan tumbuhnya segelintir startup teknologi dan investor kelas atas yang memanfaatkan ekonomi digital sebagai mesin kekayaan baru.

Fokus pada Inovasi Dalam Negeri

Pemerintah China memprioritaskan pengembangan inovasi teknologi dalam negeri, termasuk program dukungan untuk perusahaan AI serta insentif bagi penelitian semikonduktor. Kebijakan ini sekaligus menjadi jawaban atas pembatasan ekspor teknologi dari negara-negara maju, terutama AS. Penekanan pada inovasi lokal menunjukkan bahwa strategi baru China adalah memperkuat basis teknologi sendiri daripada hanya mengandalkan ekspor atau sektor properti semata.

Para miliarder baru itu pun berasal dari beragam latar belakang teknologi dari chip AI, sistem operasi inovatif, hingga aplikasi dalam ekosistem digital yang memanfaatkan data besar dan kecerdasan buatan. Lonjakan kekayaan mereka menandai pergeseran kekuatan ekonomi dari asset fisik ke kekayaan berbasis pengetahuan dan teknologi.

Investasi Tetap Menarik di Tengah Ketidakpastian

Selain AI dan teknologi chip, sektor investasi baik modal ventura maupun investasi swasta tetap menjadi sumber penciptaan kekayaan di China. Tokoh seperti Neil Shen, salah satu investor modal ventura paling sukses di China, terus berperan besar dalam menghubungkan proyek-proyek teknologi dengan modal investasi yang kuat.

Investor modal ventura semacam Neil Shen telah lama menjadi bagian penting dalam strategi pendanaan perusahaan-perusahaan teknologi baru, membantu startup tumbuh menjadi pemain besar di pasar. Hal ini mencerminkan bagaimana ekosistem investasi China terus berevolusi, bahkan saat perlambatan ekonomi menekan aspek lainnya.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meski begitu, sejumlah analis menilai kekayaan yang terakumulasi di tangan sedikit orang tetap mencerminkan ketimpangan dalam distribusi pendapatan dan kekayaan di China. Di satu sisi, lahirnya miliarder baru menunjukkan adanya peluang ekonomi di sektor teknologi digital; di sisi lain, tantangan struktur ekonomi utama masih belum sepenuhnya teratasi.

Pertumbuhan ekonomi China ke depan diprediksi masih akan bergantung pada permintaan domestik, inovasi teknologi, dan penyesuaian kebijakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Sementara itu, lahirnya miliarder baru dari sektor teknologi di tengah perlambatan ekonomi menunjukkan bahwa inovasi dan investasi tetap menjadi sumber utama penciptaan kekayaan bahkan ketika perekonomian lebih luas sedang melambat.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.